Ketakutan – GroundZero this weak week

Ketakutan selalu menemani hidup. Kau aku takkan pernah bisa lari darinya. Dalam berbagai wujud, ketakutan selau menghantui manusia, sahabat setia dari gua garba hisngga liang lahat. Manusia primitif takut gerhana matahari, memuja langit dan gunung. Manusia zaman modern takut kiamat, virus yang menyebar lewat internet, penyakit-penyakit baru dan seram yang selalu bermunculan. Ada orang-orang yang takut kesepian, ada pula yang justu takut keakraban. Ada yang takut perubahan, ada yang malah takut keabadian. Takut tua, takut sakit, takut mati, takut miskin, takut kehilangan jati diri, takut tikus, takut rampok, takut melanggar aturan, takut Tuhan, takut setan, takut akan bakteri yang memenuhi udara, takut mendengar suara rumput bertumbuh. Ada ketakutan besar, ada ketakutan kecil, ada ketakutan yang normal, ada yang irrasional. Ada takut yang personal, ada yang universal. Ada takut yang real, ada juga yang cuma khayalan.

Adakah bagian dari perjalan hidup ini yang terlepas dari ketakutan ?

Lihatlah semua tindakan yang dilakukan semua manusia pada hakikatnya adalah demi membebaskan diri dari sebuah rasa takut. Orang bekerja keras, berkeluarga, membesarkan anak, melakukan investasi membeli asuransi, memperkokoh rumah, semua adalah demi sejumput rasa aman. Manusia meninggalkan goresan di gua-gua, menuliskan prasasti, mengoleksi benda-benda, menjepretkan foto, melakukan operasi plastik, sesungguhnya adalah demi mempertahankan secuil keabadian. Sains, ilmu sihir, obat racun, bom atom. tentara, Uang, Emas. perjanjian, undang-undang, sistem pendidikan ,budaya, tembok, garis batas, identitas, semua tercipta demi menyumpal rasa takut. Agama-agama pun menawarkan hidup kekal abadi. Sebagaimana halnya ketakutan akan kematian dan kemusnahan juga selalu abadi menemani manusia dari berbagai lintasan zaman.

Ketakutan yang berbada, cara menghadapinya dengan cara berbada. membuat manusia pun jadi bermacam-macam. Ada yang pemberani, ada yang pengecut. Ada yang jadi pembunuh, taksedikit pula yang malah bunuh diri. Ada penemu sukses, ada pasien sakit jiwa. Ada pemimpin besar, ada pecundang. Bahkan para hippies yang kelihatan hidup bebas dan lepas pun sebenarnya adalah produk dari ketakutan-ketakutan akan kemapaman plus dinginnya tekanan individualisme dan kepalsuan dunia modern. Perjalanan bisa jadi pelarian dari rasa takut, bisa pula pencarian untuk menemukan cara membunuh takut.

p138 – 139

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s