Seribu Cara – Cara Pertama #1

Liburan masih sekitar dua minggu lagi, tapi  …

11070082_977108452329644_6661272310245137074_o

Memerhatikan tingkah banyak orang sama sekali tidak bisa menjawab pertanyaan yang sudah meluap-luap dari benak. Menjadikan arah angin sebagai pedoman pun sudah tidak ada harapannya lagi sekarang. Apa yang sedang terjadi sekarang, aku tidak mengerti.

Kebaikan seseorang terkadang manis sekali untuk dikenang dan dijadikan pembawa semangat. Namun sampai saat ini menjadikannya peduli dengan sesuatu apapun itu , aku anggap hal yang akan jadi masalah di kemudian hari. Aku tidak mengerti maksud setiap orang yang disimbolikan. Memberikan isyarat sama halnya saja menggangap aku sebagai bukan manusia.

Aku tahu semua orang tidak menginginkan hal-hal buruk terjadi, sering kali keburukan terluap karenan situasi yang menghimpit dan cukup spontan. Aku tahu semua orang berusaha hidup sebaik yang mereka bisa. Aku tahu semua orang ingin hidupnya bebas sesuai kehendaknya. Aku tahu semua orang senang berbagi selagi mampu. Aku tahu semua orang hanya berharap dunia ini berjalan dengan damai.

Semakin lama, rasanya tidak sanggup juga, kalau dunia ini hanya omong kosong belaka. Kita sebagai manusia alih-alih menginginkan semuanya membaik, tapi yang dilakukannya pada akhirnya mementingkan diri sendiri. Tidak ada yang tulus. Kebaikan hanya menjadi tanda untuk memastikan dirinya tidak ada masalah dengan siapa pun, bukan melihat kebaikan dari sudut pandang lain. Kekecewaan itu tidak dapat terbayar sampai kapanpun.

Seringkali aku memandang ke langit malam akhir-akhir ini. Aku rasa impianku sudah hilang. Aku tidak tahu mau mengikuti bintang yang mana lagi. Bintangku sudah mati sebelum aku tiba melihatnya di langit malam. Kalau menurut salah satu temanku dari anak fisika, semakin terang bintang tersebut hidup, berarti usia bintang tersebut tidaklah lama. Aku kurang tahu bagaimana teknisnya tapi, sepertinya cerita itu benar adanya.

Memahami bagaimana hidup ini dimulai, sepertinya memang tidak adil. Namun dilihat dari sudut pandang lain, aku berfikir, sebenarnya adil itu apa ? Keberuntungan seorang manusia sudah dimulai dari awal ia dilahirkan, begitupula dengan kesialannya. Konteks berubah saat manusia dinilai dari kegigihan dan semangat juang dari kerja kerasnya, keberuntungan akan berubah maknanya. Untuk satu hal ini mungkin manusia tersebut memiliki cukup banyak bintang yang ia raih dalam satu waktu. Bukan untukku.

Kedustaan begitu besar yang Dia lakukan bersama ciptaanya. Apa yang Dia rencanakan ? Bahkan sangat misterius. Kita ditugaskan melihat remah-remah roti sebagai petunjuk hidupnya. Kikisan pahatan kayu, bahkan sesuatu yang abstrak dan sama sekali tidak dianggap penting oleh kebanyakan ciptaan-Nya sendiri.

Kembali ke perasaan kita masing-masing mau bagaimana menanggapinya. Aku sudah muak, entah kalau kalian. Ya kalian saja.

Inilah cara yang pertama.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s