Yang Aku Butuhkan

Cerita Kedua hari ini, masih dari buku yang sama dengan sebelumnya. Selamat menjadi anak-anak kembali.

“Banyak org ingin berkendaraan bersamamu dalam mobil mewah, tapi yang kubutuhkan adalah org yg bersedia jalan kaki lalu naik bus bersamamu saat mobil mewahmu rusak” Oprah Winfrey

 

Sejak dulu aku merasa tidak puas di sekolahku. Teman2ku , meski baik dan tulus, bukanlah termasuk anak2 populer di sekolah. Selain itu, aku merasa diriku tidaklah tampan. Pokoknya tidak cocok masuk dalam lingkungan itu.

Setiap hari aku melihat di depan mataku anak2 yg termasuk kelompok yg populer-selalu tertawa-tawa dan berbisik-bisik, tak pernah sedih atau tertekan, selalu lincah di sekolah, dan saling bersahabat karib. Guru-guru menyukai mereka, anak2 perempuanpun begitu adanya. Aku mengagumi mereka dan ingin jadi seperti mereka. Aku memimpikan suatu hari mereka akan menerimaku.

Impianku menjadi kenyataan ketika aku mencoba mendaftar untuk menjadi anggota Ekskul Basket SMP, dan merasa terkejut ketika ternyata aku diterima. Dengan segera aku terdorong masuk dalam kelompok populer itu. Aku merasa seperti berang2 lincah yg keluar dari sarang.

Hampir seluruh sekolah tahu siapa diriku, atau setidaknya mereka tahu namaku. Aku banyak diundang untuk acara2 dengan teman2. Akhirnya aku menjadi salah satu anak populer. Semua org yg dulu ingin kukenal, sudah kukenal. Segala yg kudambakan tentang diriku, sudah tercapai.

Tapi ada yang aneh. Semakain dalam aku terlibat dengan kelompok “populer” ini, semakin bingung aku jadinya. Dalam kenyataannya anak2 ini jauh dari sempurna. Meraka suka saling membicarakan temannya satu sama lain, entah mulai dari kebiasaan dalam persaingan, dan tambah lagi kepada orang2 yg dianggap aneh di sekolah. Mereka cuma memikirkan apa yang ku pakai dan dengan siapa aku bergaul, tapi mereka tidak peduli tentang siapa diriku, apa pendapatku, apa mimpi2ku. Aku sangat terkejut mengetahui yg sebenarnya tentang mereka, bukan lagi apa yg kukira selama ini.

Aku mulai merasa sangat kecewa. Tapi yang paling parah, aku menyadari bahwa aku mulai menjadi seperti mereka. Aku tidak menyukai hal ini. Aku mesti menyusun hidupku kembali.

Mula2nya aku berusaha mencari tahu siapa teman2 sejatiku-mereka yg mau mendengarkan dan benar-benar peduli padaku. Merekalah yg terpenting. Aku tetap menjadi pemain basket, karena aku memang menikmati kegiatan itu. Tapi aku tidak lagi bergaul hanya dengan anak-anak yg populer. Sengaja aku memperluas lingkungan pergaulanku. Kudapati bahwa teman-teman sejatiku tak pernah meniggalkanku. Mereka cuma menuggu sampai aku sadar kembali. Akhirnya kusadari bahwa yang kubutuhkan adalah teman-teman yg sejati.

Kerri Warren – dengan perubahan (Anas Azhar).

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s