Menanti Keajaiban

Pagi ini gue mau cerita sama kalian semua tentang sebuah cerita pendek dari buku ” Chicken Soup for The Kid’s Soul ” dengan sedikit perubahan di sana – sini. Selamat menikmati …

“Segala sesuatu mungkin adanya, sebelum terbukti sebaliknya.” Pearl S. Buck

Kakak laki-laki Chairunnisa sudah hampir 10 Bulan menghilang.

Peristiwa initerjadi ketika keluarga Slamet, termaasuk Chairunnisa yang ketika itu berusia 12 tahun, dan kakak laki-lakinya, Daniel, empat belas tahun, berlibur musim liburan sekolah bersama keluarga di daerah Gunung Dempo, Pagaralam. Pondok-pondok di sana agak terpencil, masing-masing dipisahkan dengan pepohonan. Karena mereka mengenal semua keluarga yg tinggal di sana, Chai dan Daniel mempunyai banyak teman. Sobat karib Daniel tinggal bertetanggaan dengan pondok mereka. Seperti biasa, suatu senja Daniel makan di pondok temannya. Menjelang malam ia pulang ke pondok keluarganya yg berjarak seratus meter. Tapi ia tak pernah tiba di rumah.

Polisi, para sukarelawan, dan keluarganya sendiri menyisiri bukit untuk mencari tahu apa yang terjadi pada Daniel. Tapi ketika itu musim hujan, sehingga pencarian terpaksa dihentikan.

Aku berkenalan dengan Chai tak lama setelah peristiwa itu, di Kuil kami. Meski mulanya ia tampak pendiam, ada sesuatu yang istimewa dalam dirinya, yang membuatku ingin berteman dengannya. Kami menjadi sahabat di sekolah kuil. Baru beberapa minggu kemudian aku tahu kisah tentang, Daniel, ketika Chai mengundangku ke rumahnya. Kami tidak satu sekolah, tapi sesudah itu kami selalu bertemu di akhir minggu. Kadang2 aku menginap di rumah Chai, meski Chai sendiri tidak diizinkan menginap di rumahku oleh orangtuanya.

Pada suatu hari Sabtu yang hangat dan cerah di bulan April, aku menelepon Chai untuk memberitahuku bahwa ibuku bersedia mengantar kami ke taman. Kami bisa membawa makan siang berikut sepeda kami masing2 untuk bermain di sana. Chai kedengarannya sangat senag, seperti halnya aku. Itu sebabnya aku heran ketika satu jam kemudian aku tiba di rumahnya dan ia mengatakan tidak bisa pergi. Ia minta maaf dan berharap aku mau mengerti. Hari ini ada pelangi, dan ia mesti tinggal di rumah, menunggu berita.

“Berita apa ?” tanyaku.

“Tentang kakakku,” sahutya. Ia hampir2 terlalu tegang untuk bicara. “Dia akan pulang hari ini.”

“Apa ? Dia sudah ditemukan ?” tanyaku senang.

“Belum, tapi dia pasti ditemukan.” Lalu Chai menjelaskan. “Kakakku suka mengucapkan permohonan kalau muncul pelangi, bukan pada bintang-bintang. Katanya bintang tidak ada istimewanya, sebab bisa dilihat kapan saja kalau malam. Tapi pelangi adalah sebuah keajaiban. Melihat pelangi ini, aku tahu akan ada keajaiban hari ini. Daniel akan pulang. Nah kau mengerti, kan, aku mesti tetap di rumah, menunggunya.”

Aku melihat harapan yang begitu besar di mata cokelat Chai, jadi aku mengangguk. Ya, aku mengerti. Lalu kami bersama-sama memandang ke luar jendela, ke arah pelangi itu, dengan hati penuh harapan.

Keesokan harinya Chai dan orangtuanya tidak muncul di Kuil. Biksu mengumumkan bahwa keluarga Slamet menerima telepon dari polisi di daerah lain, yang memberitahukan bahwa mereka telah menemukan seorang anak laki-laki sesuai dengan ciri-ciri Daniel. Anak itu sedang mengelandang di jalan, dalam keadaan setengah sadar, tubuhnya membiru lebam. Chai benar rupanya! Pelangi itu telah membawa pulang Daniel. Keluarga Chai segera menempuh perjalanan selama tiga jam ke rumah sakit itu dirawat.

Malam itu, dari berita di TV, kami baru mengetahui bahwa anak lelaki yg ditemukan polisi ternyata bukan Daniel. Meski wjahnya biru lebam dan bengkak, begitu masuk ke kamar rumah sakit, suami0istri Slamet segera tahu bahwa anak itu buakan anak mereka. Menurut berita TV tersebut anak itu belum diketahui identitasnya dan masih dalam keadaan koma.

Meski anak itu bukan Daniel, keluarga Slamet tetap mendampinginya di rumah sakit setiap hari.  Mereka tak ingin anak itu mendapati dirinyasendirian saat ia tersadar dari komanya. Dan ia baru sadar lima hari kemudian. Suami-istri Slamet memberi kabar pada orangtua si anak yg tinggal di kota lain dan sama sekali tidak tahu bahwa anak meraka yg hilang telah ditemukan. Orangtua anak itu sangat bahagia. Keluarga Slamet baru pergi setelah menyaksikan pertemuan yang menghatukan antara si anak dan orangtuanya.

Ketika Chai akhirnya pulang ke rumah, aku takut untuk mengunjungunya, sebab aku tak ingin melikhat kekcewaan di wajahnya. Ketika akhirnya aku pergi ke rumahnya dan masuk ke kamarnya, ia sedang memandang ke luar jendela.

“Aku ikut sedih anak itu bukan Daniel.” Aku hampir2 tak sanggup mengucapkan kalimat itu.

“Aku jua,” sahut Chai. “Tapi nanti akan ada pelangi lagi, aku yakin.”

“Kenapa kau masih percaya juga pada pelangi ? Pelangi itu tidak bisa mengembalikan kakakmu.”

“Anak yang mereka temukan itu sebaya dengan kakakku. Namanya Riky, dan dia juga punya saudara perempuan. Aku yakin pelangi itu akan membawa keajaiban. Hanya saja kali ini keajaiban itu bukan untuk kami. Tapi aku akan melihat pelangi lain. Aku yakin.”

Bersama-sama kami memandang ke luar jendela, dengan hati penuh harapan.

Korina L. Moss – dengan perubahan (Anas Azhar).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s