Bukit Tercinta

august_holidays-1920x1080

Sampai saat ini aku masih belum paham bagaimana mestinya aku bergerak. Melihat dunia ini serasa tidak mampu sebagaimana sang Budha berkata ” Hidup ini adalah tidak lebih dari kesengsaraan, dan kita mesti bertahan hingga akhir “. Perubahan demi perubahan tampak, arah angin lebih mencondongkan sebagian orang. Aku senang menulis, aku senang membaca, aku senang berargumen. Hidup tetaplah hidup, sudut pandang yang mesti aku lihat saat ini masih tidak lebih dari sebuah keterpaksaan. Melihat begitu banyak penderitaan pada setiap orang, aku merasa seperti bagian dari mereka. Banyak yang mesti dipikirkan.

Langit hari ini mendung sekali, cahaya Matahari tidak tampak begitu cerah. Mungkin benar seperti di film “GIE” Tuhan itu kesepian. Pertanyaan dan statement tertentu sangatlah sensitif bagi kaum agamis saat ini, mitos-mitos yang beredar tidak lebih sebuah pembodohan publik yang memasuki pikiran-pikiran lemah tidak berdaya. Prihatin melihat manusia seperti ini.

Sejenak, aku meragukan surga yang sudah dijanjikan oleh Dia. Surga yang bagaimana sudah dijelaskan dalam kitab-kitab mereka tampak seperti pembayaran setelah upah pembayaran dari memuaskan kesepian-Dia. Aku sanksi bagaimana bisa dunia ini dapat berjalan. Tidak lain lagi, berjalannya dunia ini sekedar efek domino saja yang entah bagaimana aturannya. Manusia di era sekarang mencoba membangun peradaban yang dikira mereka akan berhasil. Namun, sebuah persatuan dari yang tidak sama, akan masih saja membentuk chaos yang mesti dibayarkan untuk tetap menikmati nafsu dunia ini.

Sebagaimana sebuah bukit, aku sangat merindukan sebuah bukit. Bukit itu …

Bukit dimana ada Tuhan di sana. Tuhan, sebuah objek fiktif karangan diriku, sebagaimana aku mau. Yang membuat aku dapat kembali ke masa kecil saja tanpa memikirkan hal-hal naratif dari otak pemberia-Nya. Berjumpa dengan teman yang tanpa bisa melihat kekurangan dari diri ku ini. Rela, ikhlas, dan memaafkan dengan mudah. Cepat lupa dengan ketidakadilan, namun terus mengingat hal – hal yang menyenangkan saja walau perut lapar atau badan sedang sakit.

Dunia yang aku dambakan tidak ada di sini. Teman sebagaimana teman yang aku inginkan tidak ada di sini. Hanya ada sekarung kebingungan dari setiap sisinya.

Semoga Tuhan tidak marah padaku untuk hati seorang hamba ini. Aku hanya ingin melepaskan saja apa yang sedang aku pikirkan siang ini. Sepertinya Ibuku saja tidak akan menerima perkataan-perkataan yang sudah kubuat ini. Hanya akan ada seseorang yang tulus saja untuk sebuah hati yang kesepian. dan Senyuman terbaik dari seorang yang tertindas dalam ketidakadilan saat ini yang bisa membuatku bahagia untuk sementara. Aku merindukan orang yang seperti itu. Mustahil sekali, aku pun akan menyerah suatu waktu.

Terima kasih , bukit …

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s