Kemarin …

Mengira-ngira tidak ada salahnya …

 

Columbia Pictures

Setiap hati manusia memiliki sisi terangnya masing-masing. Tak seorangpun orang tidak ingin memiliki kehidupan yang baik. Namun ketika mimpi tersebut mesti dipertaruhkan dengan gelapnya kehidupan, aku ragu apa manusia memang memiliki sisi terang itu.

Jiwa memang tidak sedingin batu es, tapi objek itu tidak lain adalah sebuah freezer di tubuh orang yang tidak mengerti jalan kebaikan. Aku cukup mengerti tetang itu. Tidak tahu kenapa, alam sepertinya akan menunjukkan taringnya sebentar lagi.

Tuhan menciptakan makhluk2nya tidak sebatas bisa bertingkah saja melainkan memberikan perubahan. Ketika Tuhan membuat jalannya baik2, apa yang dilakukan para makhluknya? apakah ini semua sudah sesuai dengan yang dia rencanakan sebelumya ? apakah Dia sudah tahu yang sebenarnya dia buat ?

Seandainya begitu, apakah Tuhan juga mengerti hati makhluknya, aku rasa iya, kan Dia yang membuanya, tapi aku percaya selama agama hanya menjadi bahan perdebatan, maka ia tidak akan berbuah kesucian. selama tidak berbuah kesucian, maka tidak akan berbuah pengetahuan sejati, selama tidak berbuah kepada kesucian sejati, maka tidak ada kebijaksanaan, selama tidak ada kebijaksanaan, tidak ada kebahagiaan. selama tidak ada kebahagiaan, maka tidak ada kebenaran.

Tidak agama yang terlihat benar, selama agama hanya diperdebatkan. jika agama hanya menjadi bahan renungan, maka semua agama salah. Agama bukan untuk diperdebatkan, tetapi untuk dipraktikan. ajaran yang harus dipraktikan adalah yang berbuah kesucian.

Hari itu dimulai dengan ketidakselarasan berbagai pertanda aneh dari Tuhan kita. Hati manusia memang sukar ditebak. Aku masih belum mengerti mengapa manusia bisa-bisa berbuat seperti ini. Namun aku jadi ingat sepenggal kalimat.

” Mereka adalah apa yang kita pikirkan ”

kata “mereka” seperti memang dimaknai untuk objek yang universal. Setelah sedikit dipraktekkan masih saja tidak berbuah manis. Aku sudah mencoba membuat apa saja yang kuperbuat dan yang mereka perbuat selalu ku maknai positif. Sampai batasnya aku jadi tidak mengerti lagi mana yang jelek. Aku mencoba menerima apa yang mereka lakukan. Pada awalnya aku tetap yakin mereka berbuat pasti ada alasan yang bisa dimaklumi. Dan sampai hari ini aku tetap mencoba percaya denga kalimat itu.

Ada lagi kalimat ini

” Sebelum sesuatu itu menjadi muda, awalnya pasti sulit ”

kata tersebut sebenarnya dilontarkan padaku oleh muridku sendiri. Aku sempat merasa malu tentang hal itu. Muridku saja tahu itu. a usiaku itu masihlah tidak sesuai dengan pemahaman kehidupanku saat ini. Dan aku percaya itu.

Banyak kejadian yang sesuai dengan penggalan kalimat di atas. Apa yang tidak kita percayai terkadang memang sebuah fakta pahit yang mesti kita telan agar menjadi obat yang mujarab. Menoleh ke belakang bisa jadi juga sebuah refleksi diri.

Melihat jauh kedepan juga bisa menjadi pencerahan baik bagi kita di jalan Tuhan “yang benar”.

Aku masih harus banyak belajar dari seua ini. Tidak ada yang instan. Dunia menunggu untuk diperlakukan sebaik Tuhan membuatnya. Dan pada akhirnya manusia hanya bisa berusaha untuk menjadi seperti itu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s